jump to navigation

Writing and Being – Nadine Gordimer October 21, 2008

Posted by parahyangan in kumpulan essay, nobel sastra.
Tags: , , ,
add a comment

Nadine Gordimer , «Writing And Being»
Book |  ISBN not applicable |Jalasutra|

nadine-gordimer

In the beginning was the Word.

The Word was with God, signified God’s Word, the word that was Creation. But over the centuries of human culture the word has taken on other meanings, secular as well as religious. To have the word has come to be synonymous with ultimate authority, with prestige, with awesome, sometimes dangerous persuation, to have Prime Time, a TV talk show, to have the gift of the gab as well as that of speaking in tongues. The word flies through space, it is bounced from satellites, now nearer than it has ever been to the heaven from which it was believed to have come. But its most significant transformation occured for me and my kind long ago, when it was first scratched on a stone tablet or traced on papyrus, when it materialized from sound to spectacle, from being heard to being read as a series of signs, and then a script; and travelled through time from parchment to Gutenberg. For this is the genesis story of the writer. It is the story that wrote her or him into being.

Nadine Gordimer , Nobel Lecture, December 7, 1991

The Book Of Five Ring – Miyamoto Musashi (Thomas Cleary) October 21, 2008

Posted by parahyangan in Uncategorized.
Tags: , ,
add a comment

Musashi Miyamoto  , «Kitab Lima Unsur »
Book |  ISBN not applicable| Bahasa Indonesia | Thomas Cleary

musashi

Personal Review :

Musashi mulai merintis pertarungan individual sejak usia 13 tahun. Dan berhasil mengalahkan musuhnya yang lebih dewasa. Menurut sumber roman versi Eiji Yoshikawa. Musashi bahkan terlibat dalam perang sekigahara yang menentukan sejarah Jepang ke depannya. Musashi berada pada pihak yang kalah dan sempat menjadi buronan shogunate baru yang didirikan oleh Tokugawa Ieyasu.

Perjalanan panjang seni perang individual Musashi dipengaruhi oleh seni perang dari Tiongkok, dan juga penasehat spiritualnya Takuan Soho. Pada dasarnya Musashi tidak pernah memiliki guru pedang, tetapi dia belajar dari alam , dari perenungan dan tidak terikat pada suatu gaya teksbook seperti umumnya aliran perguruan pedang pada masa itu. (more…)

Taiko – Eiji Yoshikawa (Hardcover) October 21, 2008

Posted by parahyangan in novel sejarah.
Tags: , ,
2 comments

Novel Eiji Yoshikawa adalah novel yang mengungkap salah satu masa terpenting dalam sejarah Jepang. Berfokus pada tokoh Hideyoshi. Salah satu pendukung Oda Nobunaga yang paling penting.

Di akhir masa Ashikaga Shogunate, Jepang sekali lagi di landa civil war yang berkepanjangan. Klan-klan yang berpengaruh seperti Klan Takeda dari Kai , Imagawa dari Suruga, Uesugi dari Echigo dan Hojo dari Kanto berebut kekuasaan dengan dalih mempersatukan Jepang. Sementara Oda Nobunaga dari Owari bangkit dari provinsi yang kecil dengan kegeniusan militernya dan perlahan-lahan mempersatukan Jepang bersama Tokugawa Ieyasu dari Mikawa. (more…)

Memoirs of A Geisha – Arthur Golden October 20, 2008

Posted by parahyangan in novel.
Tags: , ,
add a comment

Personal Review (In Bahasa)

Sebuah novel yang brilian yang mengungkap eksploitasi kaum wanita di negara Jepang pada jamannya.

Dibalik gemerlapnya dunia geisha, wanita di anggap sebagai suatu produk yang bisa di perdagangkan dan di perjual belikan. Keperawanannya kalau perlu di lelang untuk harga tertinggi. Sebuah paradox di kala gadis-gadis harus berjuang dan membekali dirinya dengan berbagai seni adiluhung dari mulai upacara minum teh , permainan samizhen , seni tari dan lainnya. Seorang gadis yang terpilih harus berjuang untuk menjadi yang terbaik , agar harga keperawanannya semakin tinggi. Dunia yang bengis tanpa menyisakan sedikit dunia yang normal untuk gadis belia.

Sayuri adalah gadis yang memiliki kecantikan luar biasa dengan warna yang tidak lumrah untuk orang Jepang. Sayuri di ambil dari desa nelayan miskin , dan di perlakukan sebagai suatu komoditas yang berharga. Kakaknya Sayuri tidak bernasib baik dan dinilai tidak pantas menjadi geisha dan lantas dibuang ke tempat pelacuran–dunia yang di pandang jauh lebih hina daripada dunia geisha. Sayuri lantas dibawa ke Gion (Kyoto) , sebuah distrik yang penuh dengan rumah geisha , rumah teh dan teater terkenal. (more…)

Travel in Hyperreality – Umberto Eco October 19, 2008

Posted by parahyangan in kumpulan essay, Uncategorized.
Tags:
add a comment

Umberto Eco, «Tamasya Hipperealitas»
Book | ISBN | Year | Bahasa Indonesia | Pages

Umberto Eco adalah budayawan Eropa yang berasal dari Italia. Travel in Hyperreality (Tamasya Hiper-realitas) adalah salah satu bukunya yang penuh dengan kompleksitas, merupakan kumpulan essay yang di tulis Eco dalam rentang waktu tertentu.

My Review

Tamasya Hiper-realitas berfokus pada fenomena simulacrum, copy , replica , imitasi terhadap produk – produk atau inventory abad pertengahan atau bahkan jauh lebih lampau lagi dengan skala 1:1 atau bahkan berlipat ganda sehingga lebih nyata dari realitas yang ada. Melampaui realitas dan kehilangan konteks. Khususnya Eco menyorot hal ini terhadap kultur amerika yang sepenuhnya pragmatis. (more…)

Biografi Gus Dur – Greg Barton September 23, 2008

Posted by parahyangan in biografi.
Tags: , , ,
add a comment

Greg Barton, «Biografi Gus Dur»
Book | ISBN | Year | Bahasa Indonesia | Pages

Pada tahun 1999, Gus Dur yang nyaris buta dan stroke secara mengejutkan terpilih sebagai presiden RI yang ke 4. Gus Dur yang bersahaja ini terkenal sebagai tokoh muslim yang liberal, humoris sekaligus humanis. Disamping itu juga konsisten dalam membela kaum terpinggir , kaum minoritas dari lintas agama dan etnis. Penghargaan Magsaysay Award menegaskan hal tersebut.

Greg Barton berusaha menggali perjalanan hidup Gus Dur yang hidup menjelajah menuntut ilmu di negri timur tengah, kehidupan pribadinya . Bagaimana Gus Dur menghadapi konflik internal di tubuh NU, menghadapi Muktamar NU . Bagaimana Gus Dur menghadapi tekanan pemerintah Orde Baru dan gejolak reformasi , kasus Monitor , kasus Bank Summa ,  terpilihnya Gus Dur sebagai Presiden hingga dijatuhkan secara memalukan.

Walaupun telah di jatuhkan . Gus Dur tetap dianggap sebagai tokoh yang di hormati seperti yang tertulis dalam epilog buku ini.

Hormat saya sebesar-besarnya buat Gus Dur.

Another Review :

Amazon Review

Barton does his research and tags along with Wahid – more popularly referred to as Gus Dur – for years prior to his becoming president. So, upon election, he continues along for the ride, chronicling the ups and downs, the gaffes and misunderstandings, the grace the gentle demeanor of one of Indonesia’s most controversial presidents. (The sadness of Gus Dur’s leaving office is palpable in this account.) Read it to understand the man, but also read it to understand the origins of the current political system in Indonesia and how is meshes with the main religious organisations there.

Imre Kertesz – Fateless September 15, 2008

Posted by parahyangan in nobel sastra.
Tags: , , , ,
add a comment

fateless1.jpg

| Imre Kertesz | Sorstalanság | Hungary | Memoirs | Nobel Prize

Novel ini menceritakan kisah perjuangan seorang remaja Yahudi bernama George Koves, yang berusia belasan tahun di era Perang Dunia II dan terpaksa harus mengikuti “tur wisata”  kamp kerja paksa, dan berpindah dari satu kamp ke kamp lainnya , dari Buchenwald, Auschwitz, Zeitz.  Menarik untuk disimak tentang bagaimana dalam sudut pandang remaja dalam menyikapi pembantaian massal, pelecehan terhadap HAM, proses genocide terhadap bangsanya.

Dalam usia belia George Koves memaknai penderitaan dan kekejaman dalam dunia kamp sebagai dunia “yang normal” bahkan lucu. Kamp yang seharusnya menjijikan, berbau anyir, kelam karena hawa kematian,  digambarkan sebagaimana adanya orang normal yang sedang tinggal dalam rumahnya sendiri yang nyaman.

Ayahnya sendiri sudah di bawa ke kamp sejak George berusia 4 tahun. George sendiri dimasa remaja sempat berkerja di kilang minyak , sekitar Budapest. George juga bingung dengan pita kuning yang harus di kenakannya. Semua itu masih terlalu rumit bagi jiwa belia nya.  Sampai suatu ketika , “sensus yahudi” menyerang kilang minyak dan membawa beberapa rekan yahudi. George berbohong soal umur sehingga membuat dia selamat , tidak berakhir di kamar gas , melainkan di kamp konsentrasi.

Penulis novel ini, Imre Kertesz , mendapat hadiah nobel di tahun 2002. Dalam pengalaman nyatanya, dia juga mengalami masa-masa di kamp konsentrasi Buchenwald atau Auschwitz. Dengan kata lain novel ini merupakan cerminan dari pengalaman pribadinya. Salah satu novel terbaik yang membahas tentang holocaust.

Novel ini hampir setara dengan film La Vita e Bella (Life is Beautiful) tentang bagaimana seseorang melihat penderitaan dalam sense of humor. Dan bagaimana menyikapi serangkaian “punitive picnic” sebagai sesuatu kegembiraan.[SHINMEN TAKEZO -15092008]

***

Adaptation




====== [main blog] [english] [bahasa] [sub blog]

Keindahan dan Kesedihan – Yasunari Kawabata September 15, 2008

Posted by parahyangan in nobel sastra.
Tags: , ,
4 comments

kawabata_beauty_l.jpg

Buku ini merupakan eksplorasi akan sebuah hubungan yang ganjil dan vulgar. Novelis sukses Oki Toshio, berusia 54 tahun , pria yang telah menikah , melakukan reuni perselingkuhan dengan Otoko Ueno , seorang pelukis cantik dan sukses berusia 39 tahun . Dari pusaran yang timbul dari masa lalu yang kelam , seorang anak didik Otoko –Keiko Sakami, berusia 24 tahun terseret masuk dalam pusaran tersebut , memainkan peranan aneh diantara hubungan segitiga tiga generasi tersebut. Komposisi percintaan yang aneh antara pria tua , wanita yang beranjak tua dan gadis muda yang lesbian. Masing berselisih 15 tahun dengan deret , 54 , 39 , 24.

Kawabata dengan berani mengungkapkan sebuah gambaran masyarakat modern , dan keganjilan , kesunyian yang tersembunyi dibalik hiruk pikuk masyarakat urban, kesunyian para penghuni hutan beton. Kesendirian yang sekaligus menciptakan zone aman, dan leluasa untuk melampiaskan hasrat yang bertumpuk dengan derajat keliaran nya. Memungkinkan kisah apapun terjadi dalam berbagai genre.

Melalui kepiawaian Kawabata dalam menulis , maka cerita mengalir dengan lembut , puitis sekaligus muram . Suatu ironi bahwa dengan kesuksesan Kawabata sebagai peraih hadiah nobel sastra 1968 , dia malah memilih bunuh diri dengan gas.

Novel ini pertama kali di rilis di Jepang pada tahun 1964 dengan judul 美しさと哀しみと
Utsukushisa to Kanashimi to. Di tahun 1975, terjemahan Inggris nya keluar dengan judul Beauty and Sadness.

Adaptasi Film di buat oleh Masahiro Shinoda dengan judul Utsukushisa to Kanashimi to (1965 ) . Adaptasi barat dibuat oleh Joy Fleury dengan judul Tristesse et beauté (1985)

[selfhosting | english]

[selfhosting | bahasa ]

Gulag – Aleksandr I. Solzhenitsyn September 15, 2008

Posted by parahyangan in nobel sastra.
Tags: , , , ,
add a comment

11556a08f006e5a02082ceb406f75d90.jpg

Gulag

adalah akronim dari Glavnoye Upravleniye Lagere, Pusat Administrasi Kamp Kerja. Solzhenitsyn boleh dibilang orang pertama yang memperkenalkan dan memakai istilah ini dalam kitabnya yang kini menjadi klasik, Kepulauan Gulag (Archipelag Gulag, tiga jilid, 1973-1978)

Sanya, nama kecil Solzhenitsyn, berharap menjadi sastrawan sedari muda , tapi perjalanan hidupnya beralih kebidang science matematika. Ditengah kecamuk perang dunia II , Sanya terpanggil untuk membela negaranya berkaitan dengan serbuan Jerman di musim panas 1941 (operasi barbarosa) , dan menjadi komandan di garis depan. Kebencian terhadap Stalin mulai tumbuh yang dinilah sebagai penyebab luluh lantaknya negri itu menghadapi serbuan Jerman. Dalam sebuah surat korespodensi yang ternyata di sensor oleh agen-agen Kremlin, menghantarkan Sanya ke pengadilan yang memvonisnya bersalah dengan tuduhan penghianatan dan penghinaan terhadap pemimpin tertinggi Stalin.

Jika Jerman dibawah kekuasaan Hitler melakukan kekejaman kamp kerja paksa yang tertelanjangi di depan dunia akibat kekalahannya, maka kekejaman serupa yang ada di Uni Sovyet di bawah kekuasaan Stalin tetap tertutup rapat. Sanya seperti “beruntung ” dapat memasuki neraka yang tersembunyi dalam sebuah negara , seperti sebuah kepulauan , yang dapat menelan siapa saja, kapan saja , dimana saja tanpa pandang bulu , baik anak kecil yang hanya mencuri segenggam gandum , biarawati yang terhormat , mantan militer dan pejuang bangsa , gadis – gadis belia . Sebuah neraka dengan system penangkapan , interogasi , penyiksaaan yang sistematis , dari derajat yang paling halus hingga yang paling kasar. Iyah , Sanya beruntung , dia yang mendapat kesempatan berharga melukiskan semua pemandangan neraka dunia yang mengerikan tersebut , kedalam sebuah karya sastra yang mengantarkan Sanya meraih nobel sastra tahun 1970 .

Sanya yang memang sempat menjadi sastrawan , menjadikan neraka Gulag ini sebagai sebuah kanvas , tempatnya menaruh kata – kata satiris , sekaligus renungan – renungan dan pencerahan , sebuah pencapaian spriritual yang dapat memahami makna suatu penderitaan , betapapun bengisnya , sebagai berkat yang tersembunyi ….

Dari sudut pandang moral , Kekuasaan dapat di manfaatkan untuk mencapai tingkatan kemakmuran dan kekejian yang tiada batas. Akan tetapi ditengah kegelapan yang pekat , akan selalu ada api – api spiritual yang tetap menyala , yang mencoba untuk bertahan , seraya menularkan kehangatan terhadap sesama.

Bahwa apapun yang buruk menimpa kita semua , jika di telusuri dan di renungkan terus ke masa lampau , dengan sisir yang halus , maka kita akan menemukan bahwa apa yang kita alami itu memang sudah sepantasnya kita terima.

Gulag adalah sebuah karya yang bagus , tempat kita untuk merenungkan apa itu makna2 kehidupan dibalik penderitaan , kisah kisah satir , sejarah Sovyet selama puluhan tahun .

shinmen takezo

[bahasa]

[ english]

Siddhartha – Hermann Hesse September 15, 2008

Posted by parahyangan in nobel sastra.
Tags: , , , , ,
add a comment

150px-siddhartha_novel.jpg

Penulis : Hermann Hesse

Judul Asli : Siddharta

Negara : Jerman – Swiss

Genre : Alegori Buddha

ISBN :

Buku ini menceritakan proses menuju pencerahan dari seorang pemuda yang bernama Siddhartha. Siddhartha di ceritakan sejaman dengan Buddha Gautama. Perjalanan Siddhartha pada awalnya serupa dengan Gautama. Terlahir dari keluarga brahmana, lantas meninggalkan segala kebesaran duniawi dan mengakrabi kemiskinan dan penderitaan untuk mencapai pencerahan. Lantas , Siddhartha bertemu dengan Buddha Gautama. Gautama sendiri memperingatkan Siddhartha bahwa kecerdasannya sangatlah luarbiasa sekaligus berbahaya. Siddhartha—seperti halnya Socrates—dengan lantang menyerukan bahwa kebenaran sejati itu tidak bisa diajarkan, bahkan ajaran Buddha sekalipun. Kesadaran akan kebenaran sejati itu harus di cari dan bergantung pada usaha masing – masing.

Pertemuan antara Siddhartha dan Gautama menjadi titik bifurkasi bagi Siddhartha. Untuk selanjutnya Siddhartha mengambil jalan yang jauh berbeda dari Gautama dalam mencari pencerahan, dengan jalan yang berliku dan tidak terduga. Mulai dari mengakrabi seorang pelacur bernama Kamala, dunia kenikmatan tiada batas. Lantas terjerumus ke dunia perjudian, hingga akhirnya bertemu dengan seorang pengayuh sampan yang akan merubah seluruh pola pikir Siddhartha. Akankah Siddhartha dapat mengejar kertinggalannya dari Gautama. Sungguh menarik dan mendebarkan untuk disimak.

Kualitas tulisan allegorical Hermann Hesse sangat luar biasa indah, mengalirkan bagaikan aliran air sungai yang mengantar pembaca terhanyut dari derasnya kata – kata menuju kesunyian lautan yang luas.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.